Roselle Nganjuk

Sumber Informasi Teknologi Pertanian

Bertanam secara Hidroponik

Hidroponik adalah suatu cara bercocok tanam tanpa menggunakan media tanah, tetapi dengan menggunakan larutan mineral bernutrisi atau bahan lainnya yang mengandung unsur hara seperti sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata, serbuk kayu, dan lain-lainnya sebagai pengganti media tanah.

Budidayanya bisa dilakukan secara kecil-kecilan di rumah sebagai hobi ataupun secara besar-besaran dengan tujuan komersial.

Beberapa kelebihan tanaman dengan cara ini antara lain:

· Ramah lingkungan karena tidak menggunakan pestisida atau obat hama yang dapat merusak tanah.

· Tanaman ini tidak merusak tanah karena tidak menggunakan media tanah.

· Bisa memeriksa akar tanaman secara periodik untuk memastikan perkembangan pertumbuhannya.

· Pemakaian air lebih efisien karena penyiraman air tidak perlu dilakukan setiap hari sebab media larutan mineral yang digunakan selalu tertampung di dalam wadah. Penggunakan air hanya 5% dari tanaman biasa.

· Hasil tanaman bisa dimakan secara keseluruhan termasuk akar karena terbebas dari kotoran dan hama.

· Lebih hemat tenaga kerja karena tidak perlu menyiram setiap hari, hemat lahan karena tidak membutuhkan lahan yang banyak, hemat tempat karena media tanaman bisa dibuat secara bertingkat.

· Pertumbuhan tanaman lebih cepat dan kualitas hasil tanaman lebih terjaga.

· Bisa menghemat pemakaian pupuk, karena sedikit sekali pupuk yang terbuang sia-sia karena menguap maupun meresap ke lapisan tanah yang tidak terjangkau akar tanaman.

· Lingkungan kerja lebih bersih.

· Tidak ada masalah hama dan penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri, ulat dan cacing nematod yang banyak terdapat dalam tanah.

· Dapat dilaksanakan di mana saja bahkan di garasi dan tanah yang berbatu.

· Dapat ditanam kapan saja karena tidak mengenal musim

Beberapa tanaman yang sering ditanam secara hidroponik, adalah sayur-sayuran seperti, brokoli, sawi, bayam, kangkung, tomat, bawang, bahkan strowbery, dll. Tanaman sejenis ini sering menjadi pilihan utama kaum vegan/vegetarian yang sangat memperhatikan kesehatan dari tanaman.

Terdapat dua teknik utama dalam bercocok tanam secara hidroponik. Yang pertama menggunakan larutan dan satunya menggunakan media. Metode yang menggunakan larutan tidak membutuhkan media keras untuk pertumbuhan akar, hanya cukup dengan larutan mineral bernutrisi. Teknik larutan yang umum dipakai adalah teknik larutan statis dan teknik larutan alir. Sedangkan untuk teknik media adalah tergantung dari jenis media yang dipergunakan, bisa berupa sabut kelapa, serat mineral, pasir, pecahan batu bata, serbuk kayu, dan lain-lainnya sebagai pengganti media tanah.

Teknis larutan statis

Dalam teknik ini, tanaman disemai pada tempat tertentu bisa berupa ember plastik, baskom, bak semen, atau tangki. Larutan biasanya dialirkan secara pelan-pelan atau tidak perlu dialirkan. Jika tidak dialirkan, maka ketinggian larutan dijaga serendah mungkin sehingga akar tanaman berada di atas larutan, dan dengan demikian tanaman akan cukup memperoleh oksigen. Terdapat lubang untuk setiap tanaman. Tempat bak bisa disesuaikan dengan pertumbuhan tanaman. Bak yang tembus pandang bisa ditutup dengan aluminium foil, kertas pembungkus makanan, plastik hitam atau bahan lainnya untuk menghindari cahaya sehingga dapat menghindari tumbuhnya lumur di dalam bak. Untuk menghasilkan gelembung oksigen dalam larutan, bisa menggunakan pompa akuarium. Larutan bisa diganti secara teratur, misalnya setiap minggu, atau apabila larutan turun di bawah ketinggian tertentu bisa diisi kembali dengan air atau larutan bernurtrisi yang baru. Perlu diingat, bahwa kurang oksigen bagi tanaman dapat menyebabkan atar tanaman menjadi busuk dan akhirnya tanaman mati.

Teknik larutan alir

Ini adalah cara bertanam hidroponik yang dilakukan dengan mengalirkan terus menerus larutan nutrisi dari tangki besar melewati akar tanaman. Teknik ini lebih mudah untuk pengaturan karena suhu dan larutan bernutrisi dapat diatur dari tangki besar yang bisa dipakai untuk ribuan tanaman. Teknik Larutan Alir ini menggunakan parit buatan yang terbuat dari lempengan logam tipis anti karat, dan tanaman disemai di parit tersebut. Di sekitar saluran parit tersebut dialirkan air mineral bernutrisi sehingga sekitar tanaman akan terbentuk lapisan tipis yang dipakai sebagai makanan tanaman. Parit dibuat dengan aliran air yang sangat tipis lapisannya sehingga cukup melewati akar dan menimbulkan lapisan nutrisi disekitar akar dan terdapat oksigen yang cukup untuk tanaman.

Teknik agegat media

Teknik ini menggunakan media tanam berupa kerikil, pasir, arang sekam, batu bata, dan media lainnya yang disetrilkan terlebih dahulu sebelum dipergunakan untuk mencegah adanya bakteri di media. Pemberian nutrisi dilakukan dengan teknik mengairi media tersebut dengan pipa dari air larutan bernutrisi yang ditampung dalam tangki atau tong besar.

Mei 6, 2010 - Posted by | Umum

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: